Ilustrasi Kemiskinan, sumber gambar pixaby.com
Atambua, Belunews.com – Lagu “Tabola Bale” mendadak mencuat menjadi sebuah fenomena yang menghebohkan seluruh pelosok Indonesia. Dalam waktu singkat, irama dan liriknya menembus batas-batas geografis, menyebar dari kota metropolitan hingga ke desa-desa terpencil.
Viralnya lagu ini bukan sekadar bukti kekuatan sebuah karya seni, melainkan juga cerminan nyata dari pesatnya kemajuan teknologi informasi di negeri ini. Infrastruktur digital, sekecil apa pun, telah berhasil menjangkau setiap lapisan masyarakat, membuat sebuah lagu daerah mampu berbicara ke mancanegara, atau setidaknya ke seluruh nusantara.
Puncaknya, kekaguman publik semakin meluas di mana lagu ini disuguhkan secara langsung di panggung kehormatan, yakni di Istana Negara, dalam Upacara Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80. Sebuah kehormatan yang luar biasa, membawa nuansa tradisional dari sebuah sudut kepulauan timur Indonesia ke jantung pemerintahan. Momen tersebut menjadi penanda sejarah, bahwa kebudayaan lokal memiliki tempat yang istimewa dalam narasi kebangsaan.
Bagi saya, sebagai putra/putri Nusa Tenggara Timur (NTT), momen ini membawa gelombang kebanggaan yang meluap-luap dan air mata haru yang tiada tara. Selama bertahun-tahun, NTT kerap kali dicitrakan sebagai daerah tertinggal atau hanya dikenal dari keindahan eksotisnya semata.
Kini, melalui sebuah karya seni yang autentik, Tabola Bale, NTT dapat dikenal melalui suaranya, melalui nyanyiannya, melalui rekaman jantung budayanya. Rasanya seperti sebuah pengakuan, sebuah penegasan bahwa kami ada, kami berkarya, dan kontribusi budaya kami patut dihargai.
Tanpa medium seperti ini, mungkin NTT akan tetap menjadi titik kecil yang luput dari sorotan peta nasional. Namun, di balik geliat kebanggaan dan haru biru itu, terselip sebuah perasaan yang mengganjal, bahkan cenderung memuakkan. Ada ironi yang begitu kentara ketika menyaksikan tingkat euforia yang begitu meluap dari para pejabat yang hadir dalam perayaan tersebut.
