
Meskipun kontestasi demokrasi 2029 masih berada di Cakrawala yang cukup jauh, atmosfer sosial di Kabupaten Belu sudah mulai terdistorsi oleh diskursus yang meresahkan. Sebagai wilayah perbatasan yang multikultural, Belu seharusnya menjadi etalase harmonisasi sosial dan representasi nilai-nilai demokrasi Indonesia di beranda depan negara.
Namun, kenyataan di ruang digital menunjukkan gejala sebaliknya. Berbagai platform media sosial, seperti grup Facebook “Kotak Ketik” dan “Belu Bebas Bicara,” diramaikan oleh narasi-narasi yang memuat rasisme. Fenomena ini menandakan bahwa benih-benih identitas politik telah disemai jauh sebelum lonceng kampanye dibunyikan, mengancam kohesi sosial masyarakat Belu yang majemuk.







