ATAMBUA, BELUNEWS.COM — Indonesia tengah terhuyung-huyung di ambang krisis kemanusiaan yang mendalam. Bukan lagi sekedar krisis ekonomi atau politik biasa, melainkan sebuah krisis yang menggerogoti sendi-sendi keadilan sosial dan nalar publik.
Negara ini berada dalam keadaan yang tidak stabil, sebuah konsekuensi logis dari serangkaian kebijakan yang kontroversial dan sistematis yang menyengsarakan rakyatnya sendiri. Dari kenaikan pajak yang mencekik di tengah daya beli yang merosot, hingga ironi kenaikan tunjangan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang kontras dengan kemiskinan dan kemelaratan yang meluas, setiap keputusan seolah-olah menjadi ukiran bagi wajah rakyat.
Lebih jauh lagi, proses legislasi kita tampak semakin tuli terhadap aspirasi masyarakat. Berbagai rancangan undang-undang (RUU) yang tidak berpihak pada rakyat terus didorong, sementara upaya krusial seperti pengesahan Undang-Undang Perampasan Aset Koruptor seolah sengaja dilambatkan.
Terlebih lagi, narasi yang menempatkan guru “pahlawan tanpa tanda jasa” sebagai “beban negara” telah merugikan nurani kolektif kita. Kebijakan-kebijakan ini, secara akumulatif, telah memicu gelombang kemarahan yang tak terhindarkan.
Aksi massa tumpah ruah di kota-kota besar, menyuarakan protes yang sayangnya seringkali berakhir ricuh. Bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan, perusakan fasilitas umum, hingga jatuhnya korban jiwa menjadi pemandangan tragis yang menandai betapa pentingnya luka bangsa ini.
Namun, di tengah gejolak nasional yang membara ini, saya menyaksikan sebuah anomali yang memilukan, sebuah kenyamanan yang memekakkan dari tanah kelahiran saya, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Ketika kota-kota lain terbakar oleh semangat perlawanan, mayoritas masyarakat NTT justru memilih diam. Keheningan ini bukan sekedar pasif, namun diperparah oleh narasi kontra-produktif yang disebarluaskan di media sosial.
Banyak cuitan-cuitan mendalam dan unggahan yang mengusung slogan “NTT Cinta Damai.” Yang lebih miris, slogan ini sering disandingkan dengan gambar-gambar yang dirilis di kota lain, lalu dikontraskan dengan suasana pesta atau momen hiburan di NTT. Seolah-olah, penderitaan sesama anak bangsa adalah tontonan yang bisa dijadikan pembanding untuk memvalidasi kedamaian semu.
