Atambua, Belunews.com — Generasi Milenial dikenal sebagai “digital native” yang sangat akrab dengan teknologi. Mereka menggunakan media sosial tidak hanya untuk berkomunikasi, tetapi juga untuk membangun identitas, mencari validasi, dan bahkan sebagai sumber berita dan hiburan.
Intensitas penggunaan ini, sayangnya, sering kali membawa mereka ke dalam lingkaran tekanan dan perbandingan yang dapat mengikis kesehatan mental mereka.
Dampak Negatif Utama Terhadap Kesehatan Mental dan Psikologi
Meningkatnya Kecemasan dan Depresi (Kecemasan dan Depresi)
Salah satu dampak negatif media sosial yang paling sering dibahas adalah peningkatan tingkat kecemasan dan depresi. Fenomena “Fear of Missing Out” (FOMO) adalah pemicu utama.
Ketika milenial melihat “highlight reel” kehidupan teman-teman atau influencer dengan liburan mewah, karir gemilang, atau hubungan yang tampak sempurna, mereka cenderung membandingkan diri dan merasa tertinggal atau tidak cukup baik.
Perbandingan sosial yang konstan ini dapat memicu perasaan iri, rendah diri, dan pada akhirnya, kecemasan serta depresi kronis.
Penurunan Rasa Percaya Diri dan Citra Diri yang Terdistorsi
Media sosial mendorong standar kecantikan dan kesuksesan yang sering kali tidak realistis, yang diperparah dengan penggunaan filter dan aplikasi pengeditan foto.
Generasi Milenial, terutama yang masih dalam tahap pembentukan identitas, rentan terhadap tekanan untuk memenuhi standar ini. Keinginan untuk mendapatkan “likes” dan komentar positif dapat membuat seseorang merasa harga dirinya bergantung pada validasi eksternal.
Ketika validasi tersebut tidak terpenuhi, atau ketika mereka merasa tidak mampu mencapai citra yang diproyeksikan orang lain, rasa percaya diri mereka akan menurun drastis , dan mereka dapat mengembangkan citra diri yang terdistorsi atau negatif terhadap tubuh dan kehidupan mereka sendiri.
