Ia menjelaskan, secara keseluruhan lahan yang dimiliki Lapas seluas 14 hektare. Namun untuk musim tanam kali ini, baru dimanfaatkan sekitar 2 hektare lebih sedikit. Keterbatasan pasokan air menjadi alasan utama belum bisa menggarap lahan secara maksimal.
“Target kami sebenarnya ingin mencapai 4 hektare, bahkan bisa dicampur dengan tanaman lain. Namun melihat kondisi, terutama ketersediaan air yang terbatas, sementara ini kami manfaatkan sekitar 2–3 hektare saja,” jelasnya.
Lebih lanjut, Antonio menekankan bahwa program ini bukan hanya bertujuan menghasilkan pangan, melainkan juga menjadi sarana pembinaan. Warga binaan yang terlibat diberikan kesempatan membuktikan sikap dan kemampuannya, yang nantinya dapat menjadi pertimbangan dalam pemberian hak asimilasi.
“Harapannya, warga binaan yang terlibat ini bisa sukses dan terus berkontribusi. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari penilaian mereka. Jika menunjukkan sikap disiplin dan bertanggung jawab, hal ini dapat menjadi pertimbangan untuk mendapatkan remisi, cuti menjelang bebas, hingga pembebasan bersyarat. Ini bukti mereka mampu dan setia kepada bangsa dan negara,” paparnya.
