Polarisasi “Pendatang” versus “Pribumi”
Diskursus rasial yang mendominasi ruang publik di Belu saat ini berporos pada dikotomi antara kelompok “pendatang” dan “pribumi.” Stigma “pendatang” secara konsisten ditujukan kepada warga eks Timor-Timur yang menetap di Kabupaten Belu pasca-jajak pendapat tahun 1999.
Dalam merangkum narasi eksklusif ini, tokoh publik tertentu kerap dijadikan sasaran sentimen identitas. Salah satu contoh paling nyata adalah diskursus yang menyeret Wakil Bupati Belu, Vicente Hornai Goncalves sebagai representasi warga eks Timor-Timur yang kini menjadi bagian integral dari struktur sosial dan pemerintahan Belu.
Penggunaan latar belakang etnis atau sejarah migrasi sebagai komoditas politik untuk mendiskreditkan tokoh masyarakat tertentu bukan sekadar serangan pribadi. Ini adalah bentuk reduksi politik yang berbahaya, di mana kapasitas kepemimpinan dikesampingkan demi sentimen primordial. Gejala ini menunjukkan adanya ringkasan akut dalam cara sebagian masyarakat Belu memahami esensi kemajemukan dan nilai-nilai kebangsaan.
