ATAMBUA, BELUNEWS.com – Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, kini resmi memasuki musim kemarau secara klimatologis. Cuaca yang semakin panas dan kering mulai membawa dampak nyata, mulai dari ancaman kekeringan hingga kejadian kebakaran hutan, lahan, dan pemukiman warga.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Buletin Prakiraan Musim Kemarau 2026 untuk wilayah NTT merilis data penting. Disebutkan bahwa awal musim kemarau di 28 Zona Musim di wilayah ini diprediksi mulai terjadi sejak April 2026. Curah hujan selama musim kemarau ini diperkirakan umumnya berada di tingkat Bawah Normal. Puncak kemarau yang paling kering dan panas diperkirakan akan terjadi pada bulan September nanti. Jika dibandingkan dengan rata-rata 30 tahun terakhir (periode 1991–2020), waktu masuknya musim kemarau tahun ini di sebagian besar wilayah NTT relatif sama atau justru mundur sedikit dari biasanya.
Panjangnya musim kering ini membawa dampak serius bagi kehidupan warga. Dari sisi kekeringan, masalah utama yang mulai terasa adalah sulitnya mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Petani menghadapi risiko gagal panen karena lahan pertanian kering kerontang. Kesehatan warga pun terancam, mulai dari dehidrasi hingga naiknya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA. Selain itu, kekeringan juga merusak ekosistem lingkungan.
