Sejalan dengan makna spiritual tersebut, Kalapas Atambua, Hendra, dalam sambutannya menekankan bahwa momentum ini merupakan sarana krusial bagi pembinaan kepribadian para warga binaan. Beliau berharap melalui kegiatan bernuansa religius ini, para warga binaan dapat memaknai esensi Ramadhan yang sesungguhnya sebagai waktu untuk refleksi diri dan transformasi batin. Dengan berbagi kebahagiaan dan memaknai nilai luhur Ramadhan bersama seluruh pihak yang terlibat, diharapkan muncul semangat perubahan positif serta keikhlasan dalam berbuat baik bagi semua, baik petugas, undangan, maupun warga binaan.
“Lebih dari itu, momen ini menjadi kesempatan berharga bagi keluarga besar Lapas Atambua untuk merayakan kebersamaan dan berbagi kebahagiaan secara langsung dengan anak-anak yatim. Dengan memaknai nilai luhur Ramadhan bersama seluruh pihak yang terlibat, kami berharap muncul semangat perubahan positif serta keikhlasan dalam berbuat baik yang menyentuh seluruh hadirin, baik itu petugas, undangan, maupun warga binaan yang menyaksikan dan merasakan kepedulian ini,” tegas Hendra
Acara dilanjutkan dengan Tausiyah Ramadhan yang disampaikan oleh Ustadz Maaruf Wailissa. Dalam ceramahnya, beliau menggarisbawahi kemuliaan berbagi terhadap sesama manusia. “Memberi makan kepada satu orang dengan ikhlas, pahalanya diibaratkan laksana menghidupkan satu dunia. Inilah esensi kemanusiaan yang harus dijaga selama bulan suci ini,” ujar Ustadz Maaruf.
Memasuki waktu berbuka, kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama dan buka puasa yang kemudian diikuti dengan pelaksanaan Sholat Maghrib berjamaah. Usai melaksanakan ibadah tersebut, acara diteruskan dengan aksi kepedulian sosial berupa penyerahan Bingkisan Hari Raya secara simbolis oleh Kalapas Atambua yang didampingi Ketua DWP Lapas Atambua bagi anak-anak yatim dhuafa, warga binaan, serta para Penyuluh Agama Kemenag Kab. Belu.
