Tulang Jam
Betapa menyedihkannya aku
Aku telah berjuang hingga tanganku berdarah senja, namun tak ada yang tumbuh di jam pasir.
Waktu menggerogoti tulang punggungku,
namun aku masih saja menjadi kursi kosong
di pesta orang-orang yang bekerja.
Halaman-halaman kalender dipenuhi belalang, setiap halaman bagaikan kereta yang terlewat, sebuah pintu yang hanya terbuka ke dalam.
Aku hitung kegagalanku seperti gigi
bergemeretak, tak berguna,
menghancurkan doa yang sama hingga menjadi debu.
Cermin itu memperlihatkan seorang lelaki dari asap, larut dalam iklan-iklan lowongan pekerjaan, tinta mengalir seperti urat-urat yang terurai.
Wahai detak yang tak kenal lelah
haruskah aku menjadi luka sekaligus
pisau bedah berkarat?
Setiap pagi, aku berlutut
di depan altar, tetapi dewa keberuntungan
adalah seorang penjahit yang tuli,
menjahit resumeku mengikuti angin.
Aksara Buta
Aku hanya ingin mencintaimu.
Itu saja. Semesta tahu, hanya itu.
Tapi bagaimana caranya?
Aku mengembara,
dalam kabut yang tak berbentuk,
mencari aksara yang belum pernah kau dengar, di bawah langit yang retak
di antara puing-puing bahasa.
Kugali tanah beku dari ingatan primordial,
menyelami kedamaian demi sebutir makna murni, yang belum terjamah, belum ternoda, belum terucap.
Dan aku di sini,
dengan keinginan yang membakar,
namun bibirku tersegel oleh ironi yang pahit.
Mencintai, tapi tak mampu
memberi nama yang sebenarnya.
Kita.
Ya, kita.
Akhirnya, kita menjadi asing.
Bagaimana bisa?
Pikiran ini berputar tanpa henti,
seperti roda gerigi yang lepas
dari mesin waktu, melayang
di ruang hampa di antara kita.
Dulu, ada gemuruh,
ombak yang memecah
di dalam dada, saat mata kita
bertemu sekejap, semesta bergetar.
Sebuah janji tanpa nama,
menggantung tipis di udara,
seperti benang laba-laba basah,
rapuh, menanti angin.
Kata-kata…
Oh, kata-kata.
Mereka adalah burung-burung
buta di kerongkonganku,
mematuk-matuk, ingin terbang bebas,
tapi sayapnya terbuat dari
ketakutan yang dingin.
Dan di lidahmu,
mereka mungkin berubah
menjadi kristal es,
beku sebelum sempat meleleh
menjadi suara yang kau tahu.
Kita sama-sama bisu,
mewarisi keheningan yang sama,
seperti dua cermin yang
saling memantulkan cahaya,
namun tak ada yang berani melihat wajah.
Dan sekarang,
kita menatap satu sama lain,
dari kejauhan yang absurd.
Kau adalah bayangan yang kukenal,
tapi wujudmu luntur,
Aku? Aku adalah cermin retak,
yang tak lagi bisa memantulkan keseluruhannya.
