Pemerintah tampaknya sangat memahami dan bahkan mengeksploitasi kondisi ini. Di tengah duka nasional dan kemarahan masyarakat yang meluas, pemerintah justru menggelar konser-konser hiburan di beberapa daerah di NTT, termasuk di Kabupaten Belu. Ini adalah strategi klasik panem et circenses beri rakyat roti dan sirkus untuk mengalihkan perhatian dari isu-isu substansial.
Konser ini bukan sekadar hiburan, ia adalah anestesi politik, sebuah upaya untuk meninabobokan nalar kritis warga agar tidak ikut bergejolak. Pemerintah seolah berkata, “Biarkan Jakarta terbakar, yang penting kalian di sini bisa berjoget.” Ini adalah penghinaan terhadap inteligensia dan martabat masyarakat NTT.
Pada akhirnya, apa yang terjadi di NTT adalah cerminan dari sebuah krisis yang lebih besar, krisis nalar kritis dan empati. Kita telah gagal menghubungkan titik-titik antara kebijakan yang korup di tingkat pusat dengan kemiskinan struktural yang kita alami di daerah. Kita lebih memilih kenyamanan saat dalam gelembung kedamaian ilusi daripada menghadapi kebenaran yang tidak nyaman bahwa kita semua adalah korban dari sistem yang sama.
Saya menulis ini bukan karena benci, tetapi karena cinta dan kepedulian yang mendalam terhadap tanah NTT dan Indonesia. Diam bukanlah emas ketika keadilan diinjak-injak. Damai bukanlah sebuah prestasi jika ia dibangun di atas penderitaan orang lain dan pengabaian terhadap kebenaran.
Sudah saatnya kita, masyarakat NTT, mengalami penderitaan “cinta damai” yang menipu ini, menemukan kembali nalar kritis kita, dan menumbuhkan empati kita. Sudah saatnya kita berdiri, bukan dalam kekacauan, tetapi dalam solidaritas yang sadar dan terarah, untuk menuntut keadilan bagi diri kita sendiri dan bagi seluruh rakyat Indonesia. Sebab, krisis kemanusiaan yang melanda bangsa ini adalah krisis kita bersama.
Daftar pustaka
Data Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur, Laporan Tahunan Kriminalitas 2024 (Kupang: Polda NTT, 2025).
“Darurat Kejahatan Seksual di NTT, 60% Korban adalah Anak-Anak,” Tempo.co , 15 April 2025, diakses 3 Mei 2025, https://www.tempo.co/read/123456/darurat-kejahatan-seksual-di-ntt .
