“Untuk para pejabat, DPR secara konstitusional adalah penyambung lidah rakyat, jadi adalah fatal, bila DPR menggonggong rakyat, karena DPR adalah anjing penggonggong yang menyampaikan perpanjangan aspirasi rakyat kepada eksekutif!” jelas Carlos
Pernyataan ini sontak membuat suasana hening sejenak, sebelum disambut riuh tepuk tangan dari rekan-rekannya. Carlos melanjutkan kritiknya dengan menetapkan kualifikasi yang menjadi syarat bagi calon wakil rakyat.
“jadi kalau masyarakat begini – begini, ah kau diam. Tolong pelajari Hukum Tata Negara, Untuk itu maka menjadi DPR itu minimal S1 dan paham Hukum Tata Negara,” tegasnya.
Analogi “anjing penggonggong” yang dilontarkan Carlos dengan cepat menjadi sorotan utama. Bagi para mahasiswa, analogi ini bukan sekadar umpatan, melainkan sebuah metafora kuat yang menggambarkan kekecewaan mendalam terhadap lembaga-lembaga legislatif yang dirasa lebih sering membungkam kritik daripada memperjuangkannya.
Berikut Point – point Tuntutan Massa Aksi
1. Menuntut agar DPR mengutamakan aspirasi rakyat dan membuka ruang dialog atas tuntutan pembahasan kenaikan tunjangan fantastis DPR yang dinilai menyakiti hati rakyat.
