jurnalis Anil Ananthaswamy
BELUNEWS.COM – Di auditorium yang remang-remang dan dipenuhi oleh orang-orang yang ingin tahu, penulis sains dan jurnalis Anil Ananthaswamy membuka kuliahnya dengan sebuah paradoks: “Secara intuitif kita percaya bahwa identitas kita tetap, sebuah esensi inti yang mendefinisikan kita. Tetapi apa yang terjadi ketika penyakit merampas kepastian itu, membuat kita mempertanyakan, ‘Siapakah saya?’” Pertanyaan provokatif ini menjadi landasan untuk menyelami lebih dalam ilmu identitas, menggunakan studi kasus kondisi neurologis dan psikiatrik untuk mengungkap bagaimana rasa diri kita jauh lebih mudah dibentuk dan rapuh daripada yang kita duga.
Ananthaswamy, yang dikenal karena karyanya di Wired dan The Guardian , menyampaikan ceramah yang menarik berjudul “Diri yang Berubah: Sains, Penyakit, dan Ilusi Identitas.” Dengan memanfaatkan wawasan dari neurologi, psikologi, dan catatan anekdot, ia mengeksplorasi bagaimana kondisi seperti skizofrenia, penyakit Alzheimer, dan sindrom Capgras (gangguan delusi langka di mana pasien percaya bahwa kerabat dekat atau orang yang dicintai telah digantikan oleh penipu) menantang pemahaman kita tentang apa artinya “menjadi.”
Neurosains Diri: Otak dalam Konstruksi
Ananthaswamy memulai dengan membingkai identitas sebagai sebuah narasi sebuah cerita yang terus-menerus dibangun dan diperbarui oleh otak menggunakan masukan dari memori, pengalaman sensorik, dan interaksi sosial. “Diri bukanlah suatu benda tetapi sebuah proses,” katanya, mengutip ketergantungan otak pada insula dan korteks cingulate anterior wilayah yang mengintegrasikan sensasi tubuh dan konteks emosional untuk menghasilkan rasa “diri” yang koheren.
Namun, ketika sistem-sistem ini mengalami gangguan, hasilnya bisa membingungkan. Ambil contoh sindrom Capgras , yang sering dikaitkan dengan kerusakan di belahan otak kanan. Pasien, meskipun mengenali wajah yang familiar, merasakan ketiadaan resonansi emosional ketidaksesuaian antara pengenalan visual dan perasaan kedekatan yang mendalam. “Otak berkata, ‘Saya tahu pasangan saya berdiri di depan saya,’ tetapi mekanisme emosional tidak berfungsi,” jelas Ananthaswamy. “Jadi otak menciptakan cerita: ‘Tidak, itu bukan pasangan saya itu alien.’”
