jurnalis Anil Ananthaswamy
Menurutnya, ini bukan sekadar keingintahuan medis, tetapi juga jendela untuk memahami bagaimana identitas terbentuk. “Diri adalah gabungan dari berbagai sinyal. Ketika sistemnya rusak, kita melihat celah-celahnya,” katanya.
Skizofrenia dan Diri yang Terfragmentasi
Ilustrasi yang paling gamblang berasal dari skizofrenia, suatu kondisi yang dapat memecah diri menjadi narasi-narasi yang saling bertentangan. Ananthaswamy menggambarkan pengalaman seorang pasien yang mendengar dialog internal: satu suara bersikeras, “Kamu tidak berharga,” sementara suara lain menuntut, “Kamu adalah seorang jenius.” Halusinasi pendengaran ini, jelasnya, mungkin berasal dari kesalahan fungsi saraf otak gagal membedakan pikiran yang dihasilkan sendiri dari rangsangan eksternal.
Namun, skizofrenia juga mengganggu ingatan autobiografis , landasan identitas pribadi. Pasien mungkin lupa nama mereka sendiri atau merasa terlepas dari masa lalu mereka. “Ketika ingatan Anda tentang siapa diri Anda mulai menghilang, begitu pula koherensi diri Anda,” kata Ananthaswamy. Namun, ia mencatat, beberapa pasien mengalami pembebasan yang aneh: “Tanpa beban penyesalan masa lalu atau harapan masyarakat, mereka melaporkan perasaan yang lebih sederhana, hampir seperti anak kecil.”
Alzheimer dan Erosi Masa Lalu
Penyakit Alzheimer, mungkin contoh yang paling menyentuh, menyerang fondasi jati diri: ingatan. Saat pasien kehilangan kemampuan untuk mengingat pasangan, karier, atau bahkan anak-anak mereka, mereka dipaksa untuk menghadapi narasi yang hancur. Ananthaswamy berbagi kisah yang memilukan tentang seorang wanita yang, pada tahap awal penyakit, meraih album foto dan berbisik, “Saya tidak tahu lagi siapa orang-orang ini. Siapa saya tanpa mereka?”
Namun, bahkan di sini, otak menemukan cara untuk beradaptasi. Para ahli saraf telah mengidentifikasi ” terapi reminisensi ,” di mana melibatkan pasien dengan musik atau artefak pribadi dapat secara singkat membangkitkan kembali ingatan yang terpendam. “Seolah-olah diri bukanlah entitas statis tetapi sebuah mosaik,” kata Ananthaswamy. “Pecahkan bagian-bagiannya, dan otak mencoba untuk menyusunnya kembali walaupun tidak sempurna.”
Kepemilikan Tubuh dan “Diri Asing”
Ananthaswamy juga meneliti kondisi langka seperti sindrom Fregoli , di mana individu percaya bahwa orang asing adalah orang yang mereka kenal, dan gangguan identitas integritas tubuh (BIID), di mana orang merasa anggota tubuh mereka bukan milik mereka (seringkali menyebabkan permintaan amputasi). Gangguan-gangguan ini, menurutnya, mengungkapkan betapa eratnya rasa diri kita terikat pada tubuh fisik .
