Makna Dibalik Kedipan Mata, Mitos atau Fakta: Refleksi Barthesian atas Jaringan Makna yang Tak Terucapkan
Penanda Mitos (Penanda Mitos): Tanda “kedutan mata kiri” (yang semula berarti refleksi fisiologis).
Petanda Mitos (Signified of Myth): “Seseorang akan menerima hal buruk atau malapetaka.” (Ini adalah makna baru yang disuntikkan oleh budaya).
Mitos: Kedutan mata kiri berarti nasib buruk.
Dan sebaliknya untuk kedutan mata kanan:
Penanda Mitos (Penanda Mitos): Tanda “kedutan mata kanan.”
Petanda Mitos (Signified of Myth): “Seseorang akan mendapatkan keberuntungan atau kabar baik.”
Mitos: Kedutan mata kanan berarti keberuntungan.
Melalui proses ini, Barthes menjelaskan bagaimana makna dari tanda awal “kedutan mata” di”depolitisasi” dan “di-dehistorisasi.” Makna fisiologisnya dihilangkan atau dikesampingkan, digantikan oleh makna baru yang bersifat arbitrer (tidak terkait secara logistik) dan cenderung ideologis. Mitos ini kemudian menaturalisasikan dirinya menjadi sesuatu yang “sudah seharusnya”, “apa adanya”, sebuah kebenaran yang tidak perlu dipertanyakan lagi dalam kerangka budaya tertentu.
Mengapa Mitos Ini Bertahan?
Mitos tentang kedutan mata bertahan karena beberapa alasan:
Mencari Kontrol dalam Ketidakpastian: Manusia cenderung ingin memahami dan mengendalikan lingkungannya. Kedutan mata adalah fenomena yang tidak terduga dan tidak dapat dikendalikan. Dengan memberikan makna, seolah-olah kita mendapatkan sedikit kontrol atau setidaknya gambaran tentang masa depan yang tidak pasti.
Transmisi Budaya: Kepercayaan ini diwariskan dari generasi ke generasi, menjadi bagian dari warisan budaya lisan yang kuat. Anak-anak mendengar dari orang tua atau kakek-nenek mereka, dan ini tertanam sebagai “pengetahuan umum.”
Penguatan Selektif: Ketika suatu kejadian buruk atau kebetulan baik terjadi setelah mata berkedut, hal itu memperkuat kepercayaan tersebut dalam pikiran individu, mengabaikan ribuan kali kedutan mata yang tidak diikuti oleh peristiwa penting apa pun.
