Sejak 2019, Kornelis sudah akrab dengan aroma amis ikan. Setiap pagi ia menenteng ember, menyiapkan timbangan, melayani pelanggan dengan senyum lelah. Sore hari, setelah ikan terakhir laku, ia bergegas menulis laporan kuliah, membaca buku, atau mempersiapkan tugas.
Tahun 2023, ia bahkan memutuskan untuk fokus penuh menjual ikan, demi menabung agar bisa menuntaskan kuliahnya tanpa menambah beban keluarga.
Di tengah teriknya cuaca panas di seputaran BTN Kota Baru, di tengah riuh pasar mini perempatan yang dikenal “cabang Paman” dan tatapan orang yang kadang meremehkan, ia justru menemukan nilai hidup yang paling berharga: bahwa harga diri tak ditentukan oleh pekerjaan, tetapi oleh kemauan untuk berjuang.
“Hidup harus mencari tantangan baru dan ekstrem untuk mampu mengukur kemampuan, terutama dalam meraih apa yang dicita-citakan,”
katanya dengan nada mantap, seolah menantang dunia yang pernah memandang rendah dirinya.
*Dari Kepahitan Lahir Syukur*
Bagi Kornelis, setiap tetes keringat di pasar adalah doa. Setiap luka di tangan karena es dan sisik ikan adalah tanda cinta pada masa depan. Ia tak pernah mengeluh, sebab dalam kesulitan, ia menemukan kekuatan yang sesungguhnya.
