“Kamu berhak senyum dan bahagia, sebab kamu telah kenyang dengan kesulitan dan kepahitan. Selamat malam, jangan lupa bersyukur,”
tulisnya suatu malam di akun media sosialnya, setelah seharian berdiri menjajakan ikan hingga larut.
Kalimat itu sering ia tulis di media sosialnya setiap kali merasa lelah. Sebuah pengingat sederhana, bahwa bahkan dalam kelelahan, masih ada ruang untuk berterima kasih.
Kini, di pundaknya tersemat gelar sarjana: bukan hanya gelar akademik, tetapi simbol kemenangan atas keadaan. Kornelis membuktikan, bahwa impian anak bungsu dari keluarga sederhana di Kateri itu tak kandas oleh kemiskinan, tapi justru tumbuh di atasnya.
Dengan moto hidupnya, “TanpaMu Tak Akan Seperti Ini,” Kornelis sadar bahwa segala keberhasilan adalah anugerah. Di balik segala jerih payah, ada tangan Tuhan yang selalu menuntun.
Dari bau ikan yang menempel di tangan, kini berganti dengan harum toga yang membanggakan. Kornelis Bere adalah bukti hidup bahwa kesuksesan bukan milik mereka yang lahir berkecukupan, tetapi milik mereka yang tak menyerah pada keterbatasan.
“Saya tidak tinggi, tapi mimpi saya menjulang. Saya tidak kuat, tapi Tuhan menguatkan.” (**)
