KINBANA, BELUNEWS.com — Pemerintah Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan menggelar upacara pengibaran Sang Saka Merah Putih secara khidmat di halaman Kantor Kecamatan Tasifeto Barat (Kinbana).
Rangkaian acara peringatan detik-detik Proklamasi berlangsung pukul 08.30 WITA, kemudian melanjutkan agenda panitia dengan upacara penurunan bendera pada pukul 17.00 WITA di lokasi yang sama. Antusiasme masyarakat tampak jelas dari kehadiran berbagai elemen warga yang ikut mengikuti jalannya upacara dengan penuh kekhidmatan.
Dalam amanatnya pada upacara detik-detik Proklamasi, Camat Tasifeto Barat, Tarsisius Edi, S.IP., menegaskan pentingnya semangat kemandirian sebagai uoaya nyata menuju keadilan.
“masyarakat harus menerjemahkan semangat kemandirian ke dalam upaya nyata menghadirkan keadilan dan kesejahteraan. Khusus bagi perbatasan wilayah, momentum ini memicu komitmen bersama untuk memperkuat kedaulatan negara melalui kemandirian ekonomi, keadilan sosial, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia,” ujar Tarsi.
Selain itu, Tarsisius memaparkan arah pembangunan daerah yang selaras dengan visi Kabupaten Belu 2025–2030, yakni mewujudkan masyarakat Belu yang Berkualitas, Mandiri, Harmonis, Demokratis, dan Berbudaya. Memasuki tahun kedua pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), ia menyampaikan laporan transparan kepada publik yang mencakup perencanaan, pelaksanaan, hingga pencapaian pembangunan sepanjang tahun 2025 hingga pertengahan 2026.
Di sela-sela Berbagainya, Tarsisius menyampaikan rasa duka cita mendalam atas musibah gempa bumi yang melanda Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Ia mendoakan para korban meninggal dunia agar mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa, serta memohon kekuatan bagi keluarga yang ditinggalkan.
“Atas nama masyarakat Kecamatan Tasifeto Barat, kami menyampaikan belasungkawa mendalam atas korban jiwa akibat gempa di Flores. Mereka adalah saudara-saudara kita sesama warga Nusa Tenggara Timur. Mari kita panjatkan doa agar wilayah kita selamanya aman dari gempa susulan,” ujar Tarsisius.
Upacara akbar ini melibatkan partisipasi luas dari berbagai kalangan. Jajaran tamu undangan yang hadir antara lain Pastor Paroki Nela, Pastor Paroki Halilulik, Pimpinan GMIT Halilulik, Anggota DPRD Dapil 4, Pimpinan Masjid Al-Ikhlas Halilulik, Komandan Pos Pamtas RI-RDTL Lookeu, Komandan Kikav Kavaleri Lelowai, Danki 2 Pelopor Brimob Hallikelen, Kapolsek Tasifeto Barat, serta Danramil 1605-06 Halilulik.
Hadir pula para pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lintas sektor tingkat kecamatan, Kepala Rumah Sakit Marianum Halilulik, pimpinan biara SSPS Halilulik, pimpinan Susteran Putri Maranatha Nenuk, para Penjabat Kepala Desa dan Kepala Desa Persiapan, Pater Provinsial SVD, Pimpinan TOR Lo’o Damian, serta ketua BPD dan LPM se-Kecamatan Tasifeto Barat.
Perwakilan dunia pendidikan turut memeriahkan acara, mulai dari kepala sekolah SMA, SMK, SMP, SD, TK, hingga pengelola PAUD. Organisasi kewanitaan dan kemasyarakatan juga tampak mengambil bagian, seperti Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Tasifeto Barat, Ketua Persit Kartika Chandra Kirana, Ketua Persit Bhayangkari, para Ketua TP PKK Desa, serta pimpinan BUMN dan BUMD tingkat kecamatan.
Barisan veteran dan organisasi kepemudaan turut memperkuat barisan upacara, yang terdiri atas Ketua DPC Legiun Veteran RI Markas Cabang Belu (Km 16), Ketua Kwarran Tasifeto Barat, serta pimpinan lembaga keuangan seperti CU Kasih Sejahtera Unit Halilulik, CU Serviam Unit Halilulik, Koperasi Pintu Air Kinbana, Koperasi Cendana Timor Kinbana, Koperasi Swastisari Halilulik, Koperasi TLM Cabang Tasifeto Barat Halilulik, dan Koperasi Amartha.
Tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda, tokoh perempuan, para pendamping desa, pendamping PKH, TKSK, anggota LINMAS se-Kecamatan Tasifeto Barat, serta Panitia HUT ke-81 RI tingkat Kecamatan Tasifeto Barat ikut melengkapi kemeriahan hari bersejarah tersebut.
Rangkaian kegiatan hari itu resmi berakhir pada pukul 17.30 WITA setelah upacara penurunan bendera selesai. Seluruh panitia penyelenggara dan masyarakat menutup perayaan Hari Kemerdekaan ini dengan menari Tebe bersama sebagai simbol kebersamaan dan persatuan.
