Kontras Mencolok: Palestina di Panggung Dunia, Eks Timor Timur di Pinggiran Negeri
Kontras antara perlakuan pemerintah Indonesia terhadap warga eks Timor Timur dengan komitmennya terhadap Palestina adalah inti dari kritik tajam yang dilayangkan. Pemerintah Indonesia tidak henti-hentinya menunjukkan solidaritas penuh kepada rakyat Palestina. Dana miliaran rupiah digelontorkan untuk bantuan kemanusiaan, pembangunan infrastruktur, dan dukungan beasiswa. Beasiswa penuh bagi anak-anak Palestina di berbagai jenjang pendidikan adalah salah satu wujud nyata dari komitmen ini. Para pejabat tinggi negara berulang kali bersuara lantang di forum internasional, menuntut keadilan, menolak penjajahan, dan menekankan pentingnya hak asasi manusia bagi rakyat Palestina.
Semangat kemanusiaan dan keadilan yang sama, sayangnya, tidak tampak setara untuk warga negara Indonesia sendiri, khususnya mereka warga eks Timor Timur. Bagi banyak pengamat dan para korban sendiri, ini menciptakan pertanyaan mendasar tentang prioritas moral dan etika sebuah negara.
“Bagaimana mungkin pemerintah kita begitu sibuk ‘pencitraan politik’ di panggung internasional, bersuara atas ketidakadilan dan kemanusiaan di Palestina, sementara luka dan ketidakadilan yang diderita warganya sendiri diabaikan?. Solidaritas global itu penting, tetapi konsistensi tuntutan moral kita untuk pertama-tama menjamin keadilan bagi warga negara kita sendiri, terutama mereka yang telah berkorban besar untuk negara ini.”
Mencari Akar Pengabaian: Agama, Politik, atau Amnesia Sejarah?
Pertanyaan besar yang mengemuka adalah mengapa pengabaian ini terjadi? Beberapa perkiraan muncul dari berbagai kalangan aktivis dan pengamat
Dugaan Bias Agama
Salah satu dugaan yang paling sensitif adalah perbedaan mayoritas agama. Indonesia adalah negara mayoritas Muslim, sementara warga eks Timor Timur mayoritas beragama Katolik. Pertanyaan ini, meskipun tidak diungkapkan secara langsung oleh pemerintah, seringkali menjadi bisik-bisik di kalangan komunitas yang terabaikan. “Apakah karena mayoritas warga eks Timor Timur beragama Katolik sehingga pemerintah tidak memiliki rasa empati yang sama seperti yang ditunjukkan kepada saudara-saudara kita di Palestina?
