Grandiose Narcissism (Narsisme Grandios)
Ciri utamanya adalah rasa superioritas yang berlebihan, kebutuhan terus‑menerus akan pujian, kurang empati, dan sikap dominan.
Ego sintonik: pelaku biasanya tidak menyadari bahwa perilakunya bermasalah.
Asal‑usul: biasanya terbentuk sejak masa kanak‑kanak ketika anak diperlakukan seolah‑olah ia “dewa kecil”.
Dunning‑Kruger Effect
Definisi: bias kognitif di mana orang yang tidak kompeten meyakini dirinya sangat ahli, sementara yang sebenarnya kompeten cenderung meremehkan diri.
Penyebab: kurangnya metakognisi, ilusi superioritas, dan kesulitan mengakui keunggulan orang lain.
Hubungan Kedua Konsep Narsisme grandios dan efek Dunning‑Kruger saling bersilangan dalam hal overestimasikan diri. Keduanya menciptakan distorsi realitas: sang narsis tidak dapat melihat batas kemampuan, sementara orang dengan efek Dunning‑Kruger tidak sadar akan ketidaktahuannya. Kedua pola ini menolak kritik dan saran, bertolak dengan prinsip Socrates yang berkata, “Saya tahu bahwa saya tidak tahu apa‑apa.”
Orang yang terjebak dalam pola ini biasanya lebih memprioritaskan kepentingan pribadi daripada tim, karena dipicu oleh keserakahan dan materialisme.
Apa lagi di era digital yang penuh tawaran “beli sekarang, dapatkan kebahagiaan seketika”, mudah sekali terjebak dalam pola hidup serakah dan materialistis. Namun apa yang tampak menggiurkan itu sebenarnya menyimpan konsekuensi luas yang tidak boleh diabaikan, karena akan berdampak pada hal – hal berikut :
