Setibanya di Bandara El Tari Kupang bersama jenazah anaknya, Serma Kristian Namo dengan suara bergetar namun tegas menyatakan keyakinannya bahwa putranya, Prada Lucky Cepril Saputra Namo, terbunuh akibat menjadi korban kekejaman rekan-rekannya sendiri yang bertugas di Batalyon TP 834/WM Nagekeo.
Sebagai seorang prajurit TNI AD, Serma Kristian memiliki pemahaman mendalam tentang lingkungan militer, sehingga pernyataannya membawa bobot yang serius.
“Dia korbannya, itu jelas. Saya tuntut keadilan,” kata Serma Kristian.
Penegasan ini menggarisbawahi tekadnya untuk mencari kebenaran dan memastikan bahwa para pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal sesuai hukum yang berlaku.
Kematian Prada Lucky Cepril Saputra Namo ini menjadi sorotan serius, memunculkan pertanyaan besar tentang keamanan, pelatihan, dan pengawasan di lingkungan militer, terutama bagi prajurit-prajurit muda yang baru bergabung.
Pihak keluarga, didukung oleh ayah korban yang juga seorang prajurit TNI, berharap agar kasus ini diusut tuntas dan keadilan dapat ditegakkan seadil-adilnya bagi almarhum Prada Lucky. Masyarakat dan keluarga kini menantikan langkah tegas dari pimpinan TNI untuk mengungkap kebenaran di balik tragedi kematian ini dan memastikan pelaku mendapat hukuman setimpal. (Barros)
