Komoditas Politik Semata
Warga eks Timor Timur seringkali merasa hanya menjadi “komoditas politik” menjelang pesta demokrasi. Setiap kali pemilu tiba, para politikus datang dengan janji-janji manis tentang perbaikan, nasib pembangunan, dan kesejahteraan. Setelah suara didapat, mereka kembali dilupakan. Mereka menjadi suara yang mudah dimobilisasi, namun kekuatan politik mereka untuk menuntut janji yang seringkali terbatas.
Amnesia Sejarah dan Beban Masa Lalu:
Mungkin ada keinginan dari sebagian kalangan untuk “melupakan” babak kelam Timor Timur yang melibatkan Indonesia. Dengan mengabaikan warga eks Timor Timur, pemerintah secara tidak langsung juga menghindari pengakuan penuh atas kompleksitas dan konsekuensi dari keterlibatan Indonesia di masa lalu. Hal ini menciptakan semacam amnesia sejarah yang paling merugikan mereka.
Kurangnya Advokasi dan Kekuatan Politik: Sebagai minoritas yang tersebar dan seringkali terpinggirkan secara ekonomi, warga eks Timor Timur tidak memiliki kekuatan politik atau lobi yang cukup kuat untuk mendesakkan tuntutan mereka secara efektif di pusat kekuasaan. Suara mereka mudah tenggelam di tengah hiruk pikuk isu nasional lainnya.
Jalan ke Depan: Menuntut Konsistensi Kemanusiaan
Kisah warga eks Timor Timur adalah pengingat yang menyakitkan bahwa komitmen kemanusiaan sebuah negara harus dimulai dari dalam. Indonesia, yang berambisi menjadi kekuatan moral dan suara bagi keadilan global, perlu terlebih dahulu memastikan keadilan dan kesejahteraan bagi warganya sendiri, terutama mereka yang telah membuat pilihan besar atas nama negara.
