NASIONAL, BELUNEWS.COM – Di panggung megah diplomasi internasional, Indonesia tampil sebagai juru bicara lantang bagi keadilan, kemanusiaan, dan penentang kolonialisme. Dengan suara berapi-api, Indonesia secara konsisten menyuarakan dukungan tak tergoyahkan untuk Palestina, mengutuk penjajahan, menawarkan bantuan finansial yang fantastis, bahkan menyediakan beasiswa penuh bagi anak-anak korban konflik. Namun, di balik sorotan gemerlap citra global ini, sebuah ironi menyakitkan terus membayangi: nasib ratusan ribu warga eks Timor Timur yang memilih untuk tetap bergabung dengan Indonesia pasca-pergolakan tahun 1999, kini hidup dalam kemiskinan, terkikis, dan terlupakan oleh negara yang mereka pilih.
Sejak dua dekade lalu, harapan akan kehidupan yang lebih baik bagi mereka yang teguh memegang panji Merah Putih di Timor Timur telah berubah menjadi janji-janji kosong dan penderitaan yang tak berkesudahan. Ini adalah kisah tentang pengabaian domestik yang kontras tajam dengan retorika kemanusiaan yang digemakan di kancah global.
Jejak Sejarah yang Terlupakan: Sebuah Pilihan Berdarah

Untuk memahami kedalaman luka yang dirasakan warga eks Timor Timur, kita perlu menengok kembali ke tahun 1999. Setelah 24 tahun integrasi ke dalam wilayah Indonesia, referendum yang dipimpin PBB memberikan pilihan kepada rakyat Timor Timur: tetap menjadi bagian dari Indonesia atau merdeka. Ini bukanlah pilihan yang sederhana. Bagi ribuan warga yang meyakini identitas Indonesia dan telah berjuang dan berkorban di bawah bendera Merah Putih, ini adalah momen penentuan. Mereka adalah kelompok pro-integrasi, yang seringkali dikenal sebagai milisi pro-Indonesia atau pendukung setia NKRI. Bahkan yang paling menyakitkan dan penuh diskriminasi adalah mereka masih dipangil pengungsi oleh warga lokal.
Ketika hasil referendum menunjukkan mayoritas memilih kemerdekaan, gejolak dan kekerasan meletus. Ribuan warga eks Timor Timur yang pro-integrasi, demi keselamatan atau keyakinan politik, terpaksa meninggalkan tanah kelahiran mereka. Mereka mengungsi ke berbagai wilayah di Indonesia, terutama ke Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan janji-janji pemerintah Indonesia untuk memberikan pemukiman layak, mata pencaharian, integrasi sosial, dan masa depan yang terjamin. Mereka memilih Indonesia bukan karena paksaan semata, melainkan seringkali karena ikatan sejarah, ideologi, dan bahkan karena merasa lebih aman di bawah payung NKRI. Banyak dari mereka yang lantang menyuarakan “NKRI Harga Mati”, sebuah slogan yang kini terasa hampa di tengah kenyataan hidup mereka.
Namun, janji-janji itu belum pernah terwujud sepenuhnya. Sebagian besar dari mereka tidak pernah mendapatkan pembaruan yang layak, tanah yang dijanjikan, atau akses penuh terhadap fasilitas publik yang memadai. Mereka menjadi warga negara “kelas dua” di negara yang mereka pertaruhkan segalanya.
Hidup dalam Bayang-bayang Ketidakpastian: Wajah Kemiskinan di Tanah Sendiri

Dua puluh empat tahun berlalu sejak referendum, dan situasi warga eks Timor Timur yang memilih bergabung dengan Indonesia masih jauh dari harapan. Mereka tersebar di berbagai wilayah, dengan konsentrasi terbesar di perbatasan antara Timor Leste dan NTT, seperti Kupang, Atambua, dan sekitarnya. Sebagian besar hidup dalam kemiskinan, terdapat pemukiman darurat atau semi permanen tanpa akses yang memadai terhadap air bersih, sanitasi, listrik, atau fasilitas kesehatan.
Anak-anak mereka, generasi yang lahir dan besar di pengungsian atau di pemukiman baru, kini menghadapi tantangan yang lebih berat. Banyak yang putus sekolah karena kesulitan ekonomi, terpaksa bekerja di usia muda, atau tidak memiliki kesempatan pendidikan yang layak. Identitas mereka seringkali terombang-ambing; tidak sepenuhnya diterima oleh masyarakat lokal dan merasa diabaikan oleh pemerintah pusat, bahkan ditolak oleh saudara mereka ssndiri dan anggap sebagai pengkhianat. Trauma masa lalu dan masa depan yang buruk menciptakan siklus kemiskinan dan keterasingan yang sulit diputuskan.
Anak-anak Palestina mendapat beasiswa penuh dari pemerintah RI, tapi anak-anak eks warga Timor Timur yang orang tuanya memilih Indonesia, diabaikan, padahal, apa yang dialami mereka lebih tragis, dan Indonesia memiliki keterlibatan yang sangat dalam dalam sejarah kami. Mereka bukan hanya korban perang, mereka adalah korban pilihan, sebuah pilihan yang dihormati di atas kertas tapi tidak dalam kenyataan.”
